Langsung ke konten utama

Ketika Waktu Tinggal Dua Hari: Kisah Lahirnya Masjid Ali bin Abi Thalib di Bukik Limau


Cerita vol 4/2026/07/24"Dua hari lagi harus dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Ali bin Abi Thalib."


Kalimat itu meluncur kencang dari mulut Pak Datuak Tong, menembak papan alamat menghantam fikiran setiap panitia yang hadir.


Beliau menjelaskan dengan wajah serius. Proposal pembangunan masjid yang dibuat beberapa hari lalu telah disetujui Human Initiative Pusat. Pelaksanaannya dipercayakan kepada Mitra Initiative, dan dirinya ditunjuk sebagai pengawas lapangan.


"Bos saya pak Sutarman baru menelpon, ia hanya memberi waktu tiga hari saja untuk memulai pembangunan. Ini sudah lewat dua hari. Pada Sabtu, 25 Juli 2026 besok, bagaimana pun caranya peletakan batu pertama harus terlaksana. Senin laporan harus sudah masuk ke pusat."


Tak ada ruang untuk tawar-menawar. chek chek chek chek ..


Sore itu langit Bukik Limau tidak sedang bercerita tentang hujan. Ia justru dipenuhi kepulan asap dari tungku-tungku pembakaran batu bata yang tak pernah benar-benar padam.


Asap itu menari di antara tiang-tiang kayu menempel di atap-atap Rumbia pondok-pondok Bata, daun-daun pisang, lalu hinggap di pakaian siapa pun yang datang. Tak peduli baru selesai mandi atau pulang dari lubang rancah, semua akan membawa pulang aroma yang sama seperti aroma perjuangan para pembuat batu bata.


Di tengah kepulanan asap itulah sebuah kabar datang seperti hentakan kokang senapan angin yang mengusik tupai di ladang-ladang coklat warga.


---


Mereka yang duduk melingkar sore itu saling berpandangan. Ada Rozi dan istrinya Sindi, pemilik usaha percetakan batu bata yang selama ini mengelola lahan tersebut.


Ada Pak Sardi, Ketua Panitia Pembangunan. Pak Rizki Yuzhar, bendahara. Pak De Baryono, Ketua Pengurus Mushalla Al-Amin.Pak Sabar, dan beberapa tokoh lainnya.


Saya sendiri (Malin) ikut menyaksikan sambil berdiri di antara mereka, membuka map berisi gambar bangunan, surat keputusan panitia, dan berbagai dokumen yang sejak sore kemaren diprint dan disusun untuk membantu pengayaan informasi bagi panitia.


Namun harapan itu ternyata harus berlari lebih cepat daripada rencana semula.


Padahal sebelumnya panitia berharap pembangunan akan dimulai satu atau dua bulan lagi. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai.


Tanah belum diratakan. Masih ada lubang rancah. Sebagian Batu bata milik Rozi masih dibandreng menumpuk menunggu dibakar, yang sudah masak masih ada beberapa ratus biji lagi menunggu pembeli.


Rozi juga harus pindah ke lokasi usaha yang baru. Rumah tempat tinggal dan tempat produksi baru harus dibangun pula.


Pewakaf tanah perlu ditemui kembali, menginformasikan rencana kerja panitia. Undangan acara belum disebarkan pula, kursi dan tenda kemana di sewa, makanan dan minuman darimana biayanya. Segala sesuatu masih berada dalam tahap persiapan.


Tetapi waktu rupanya tidak mau menunggu. Pak Tong menyampaikan ultimatum yang membuat semua termangu terdede-dede didorong waktu.


"Bila dalam lima hari pembangunan tidak dimulai, bantuan ini akan direlokasikan ke tempat lain."


Kalimat itu menggantung di udara. Asap di tungku pembakaran bata pun seakan berhenti sejenak memusatkan perhatian mencerna omongan itu.


Tak seorang pun ingin kehilangan kesempatan yang mungkin hanya datang sekali saja, tidak mungkin datang lagi pada waktu berikutnya. Tiga tahun lalu juga pernah mengajukan proposal yang sama, tetapi masih gagal, nah inilah kesempatannya.


---


Pak Sabar tampak gelisah. Ia mengajak berpindah duduk ke Mushalla Al-Amin yang berjarak lima tiang listrik me mudik atau ke warung Pak Dusun satu blok dari sini agar pembicaraan lebih nyaman.


Namun Pak Tong menggelengkan kepala.


"Di sini saja."


Nada suaranya pendek, tegas, nyaris seperti seorang komandan yang sedang menyusun semangat pasukan sebelum masuk ke medan laga.


Tak ada air minum. Tak ada kursi empuk. Hanya duduk beralaskan rumput dan terompah saja, aroma asap batu bata, dan wajah-wajah penuh harap yang sedang memikirkan masa depan umat dan dusunnya.


---




Tadi, saya tiba di Pondok Batu Bata itu sekitar pukul 16.15 WIB. Motor saya parkir di halaman rumah Rozi. Rumah sederhana itu menjadi garis star awal untuk mewujudkan sebuah harapan besar.


Rozi mempersilakan masuk. Kami bertiga duduk di atas tikar sterofom bersama istrinya, Sindi. Mereka pasangan muda, baru beberapa tahun menikah.


Map berisi dokumen pembangunan saya buka satu demi satu. Kami membahasnya gambar demi gambar, ukuran, dan berbagai kemungkinan.


Sesuai hasil musyawarah pembentukan panitia semalam, sore itu seluruh pengurus memang dijadwalkan bertemu dengan Pak Tong.


Belum lama pembicaraan berlangsung, telepon saya berdering.


Di layar tertulis nama Kak Delvi sepupu saya tinggal di Purwajaya.


Suaranya sesak.


Suaminya baru saja meninggal dunia di rumah keluarga mereka di Koto Tuo, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar.


Beliau meminta saya membelikan perlengkapan kain kafan lalu mengantarkannya secepat mungkin.


Dalam beberapa menit, suasana hati saya berubah.


Dari rapat pembangunan rumah Allah menuju persiapan mengurus seseorang yang telah dipanggil kembali kepada-Nya.


Saya meminta izin kepada Rozi. Baru beberapa langkah meninggalkan rumah, Pak Tong datang dari arah jalan raya.


Saya sempat mengantarnya masuk ke rumah Rozi sebelum bergegas pergi pulang ke rumah mengambil kain kafan di kedai mertua.


Hidup memang sering mempertemukan dua kenyataan dalam satu waktu yang sama.


Di satu sisi ada rencana membangun tempat ibadah. Di sisi lain ada seseorang yang telah menyelesaikan seluruh perjalanan hidupnya. Betapa tidak, kak Delvi adalah sepupu saya, semasa hidup saya dekat dan bergaul dengan suaminya.


---


Sekitar lima belas menit kemudian saya kembali. Suasana rapat berubah semakin serius. Tarik-ulur pendapat mulai terjadi.


Negosiasi mengenai waktu, desain, ukuran bangunan, hingga berbagai kebutuhan teknis berlangsung tanpa jeda.


Di balik perdebatan itu, sesungguhnya semua memiliki tujuan yang sama. Mereka ingin masjid terbaik berdiri di tanah wakaf itu.


---



Beberapa waktu sebelumnya Pak Tong pernah menghubungi saya.


Sebuah proyek pembangunan mushalla berukuran 8 × 8 meter di kawasan Padang Rantang batal dilaksanakan karena berbagai kendala.


Daripada dana kembali ke pusat, beliau meminta kesediaan Nazir Wakaf Bukik Limau untuk menerimanya.


Permintaan itu saya sampaikan kepada pengurus.


Pertemuan demi pertemuan dilakukan.


Proposal diajukan secara daring kepada Human Initiative.


Alhamdulillah, proposal itu akhirnya disetujui.


Bahkan sebenarnya tiga tahun sebelumnya Pak Tong juga pernah mencoba mengajukan pembangunan di lokasi yang sama bersama pak Sardi dan Afril Dona Erizal.


Saat itu rezekinya belum datang. Kini pintu itu kembali terbuka. Namun waktunya justru sangat sempit.


---


Tanah wakaf seluas 395 meter persegi itu membentang dari arah tenggara menuju barat laut.


Letaknya berada di tengah kawasan proyek perumahan yang sedang berkembang menjadi permukiman baru.


Di kanan-kiri, atas-bawah, rumah-rumah mulai berdiri.


Pewaqaf (Waqif) melalui Panitia melihat masa depan kawasan itu jauh lebih besar daripada kondisi hari ini. Karena itulah muncul sebuah usulan.


"Kalau memungkinkan, jangan 8 × 8 meter lagi," kata Pak Sardi.


"Kita jadikan 12 × 12 meter. Kekurangan biaya akan kami tanggung bersama. Daripada nanti dibongkar lagi karena jamaah semakin banyak, lebih baik dari awal kita bangun lebih besar."


Usulan itu diteruskan Pak Tong kepada pimpinan Human Initiative. Semua berharap permohonan tersebut dikabulkan. Sebab mereka tidak sedang membangun bangunan biasa.


Mereka sedang menyiapkan rumah Allah yang kelak akan menjadi tempat bersujud generasi berikutnya.


---




Dua hari sebelumnya, Selasa, 21 Juli 2026, Pak Tong telah menghubungi saya.


Spanduk peletakan batu pertama telah selesai didesain. Ia meminta panitia segera mencetaknya.


Sebuah tanda bahwa hitungan mundur benar-benar telah dimulai. Tak ada lagi alasan untuk menunda.


---




Menjelang senja, susunan acara sederhana pun mulai disusun. Tidak mewah. Tidak rumit. Hanya rangkaian doa dan harapan saja.


Pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Sambutan Kepala Jorong. Sambutan Nazir Wakaf. Sambutan pewakaf. Sambutan Pengurus Mushalla Al-Amin. Sambutan dari perwakilan Human Initiative. Peletakan batu pertama. Doa penutup. Lalu foto bersama.


Sesederhana itu. Namun di balik susunan acara yang tampak singkat itu tersimpan perjalanan panjang: doa-doa yang dipanjatkan bertahun-tahun, proposal yang berkali-kali diajukan, rapat yang tak terhitung jumlahnya, kegelisahan para pengurus, harapan si pemberi Waqaf serta perjuangan masyarakat yang rela menggeser usaha, meratakan tanah, dan menyatukan tenaga demi sebuah cita-cita hidup lebih baik untuk dunia dan akhiratnya.


Barangkali, sebuah masjid memang tidak pernah lahir hanya dari semen, pasir, dan batu. Ia lahir dari kesabaran. Dari musyawarah. Dari pengorbanan dari orang-orang yang bersedia berlari ketika waktu sudah kasib. Orang-orang yang percaya bahwa membangun rumah Allah adalah pekerjaan yang akan terus mengalir pahalanya, bahkan ketika jasad mereka telah lama dimakan waktu.


Dan di Bukik Limau, pada penghujung sore yang dipenuhi aroma asap pembakaran batu bata ini, amalan jariah kecil itu berusaha kami rekam di dalam rangkayan tulisan. | F. Malin Parmato


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teks Cacarakan Makharijul Huruf Ustazdah Lutfie

  Download Cacarakan Makharijul Huruf RAR #cacarakan Download teks cacarakan ustadzah Lutfie

Download

  RAB Rehap Mushalla Al-Amin Bukik Limau