Langsung ke konten utama

Tiga KTP Belum Dilampirkan, Dua Calon Pengurus Mushalla Al-Amin Bukik Limau Gugur, Untung ada Cadangan


_Cerita vol 3/2026/07/20:_

Ternyata, semangat ber api-api tidak selalu berjalan dalam satu kali helaan napas. Ada saja ranting kecil yang luput dari perhatian. Berkas permohonan SK Pengurus Mushalla Al-Amin Bukik Limau yang saya antarkan empat hari lalu ke Kantor Wali Nagari Sarilamak rupanya belum sempurna. Tiga nama calon pengurus masih menggantung tanpa lampiran salinan KTP. Pada Kamis (16/7/2026) berkas permohonan itu sudah diterima Sekretaris Nagari Sarilamak.


Hari ini, Senin, 20 Juli 2026. Langit di atas Sarilamak tampak santai saja, panasnya tidak terik, sejuknya tidak berlindung awan.


Tengah hari, saat saya baru saja menyeberang jalan raya usai menjemput anak dari sekolahnya di TK Dharmasari Sarilamak, terdengar panggilan keras dari seberang. Dari depan toko kayu yang berseberangan dengan rumah saya, Pak Rizki Yuzhar—Bendahara Mushalla Al-Amin—melambaikan tangan.


"Pak Malin!" panggilnya sembari melangkah mendekat. Anak saya si Hadi saya suruh masuk ke rumah menemui Bundanya, sedangkan saya menyeberang lagi menemui pak Riki. Keduluan saya menyeberang dari dia. Saya terlebih dahulu mengisyaratkan lima jari menyetopnya supanya tetap di tempat.


Pak Rizki mengingatkan agar malam nanti saya menyempatkan hadir di rumah Ibu Erita dan Da AL untuk menghadiri acara Yasinan. Nenek Alimisnar, sosok sepuh berusia 86 tahun yang merupakan ibu dari Tek Mon Bukik Limau (mertua Pak Depi), telah wafat empat hari lalu, yaitu (Kamis, 16/7/2026). Almarhumah mengembuskan napas terakhirnya di rumah Bu Erita di Bukik Limau, sebelum akhirnya dihantarkan ke peristirahatan terakhir di kampung halamannya, Koto Tangah, Kecamatan Bukik Barisan.


"Apo kegiatan Pak Malin lai?" tanya Pak Riki ditengah kerasnya deruman mesin Misubishi Fuso Dump Truck yang konvoi sedang lewat beberapa kendaraan di depan kami.


"Saya mau ke Kantor Wali Nagari Sarilamak, Pak Rizki. Mau menanyakan surat permohonan SK pengurus mushalla kita kemarin, apakah sudah selesai atau belum."


"Oh, ya baiklah. Semoga lancar dan selesai, Pak Malin," jawabnya mendoakan.


Saya bergegas lagi menyeberang dan terus masuk ke rumah, menyambar kunci sepeda motor, tas, dan helm, lalu pamit dengan istri dan si Hadi segera berpacu menuju Purwajaya tempat baru Kantor Wali Nagari Sarilamak berada untuk beberapa waktu.


Sesampainya di Kantor Wali Nagari, saya langsung menemui Sekretaris Nagari, Ibu Yusma Dewi. Namun, harapan agar SK itu sudah berstempel rapi seketika pupus. Setelah diperiksa kembali, Ibu Dona mengabarkan bahwa suratnya belum bisa diproses karena ada tiga nama pengurus yang belum melengkapi lampiran KTP.


Tanpa membuang waktu, saya berpamitan dan langsung berbalik menuju Bukik Limau lewat Simpang jalan dekat rumah kami arah ke kantor Bupati demi menemui para pemilik KTP.


Tentu saja, bertamu tidak bisa setangkar itu—datang, minta KTP, lalu pergi. Ada tata krama yang harus dijaga. Harus ada obrolan pembuka, menanyakan kabar kesehatan, cerita sana-sini, hingga akhirnya sampai ke inti maksud dan ditutup dengan basa-basi hangat. Tak terasa, jarum jam sudah merambat ke angka 12.00 WIB.


Lalu lintas jalan raya siang itu sedang riuh-riuahnya. Tepat di saat itu hampir jam istirahat, orang-orang dari Kantor Bupati dan berbagai kantor dinas di sekitarnya sudah mulai ramai keluar untuk beristirahat dan mencari makan siang. Deretan kendaraan menyeberang pelan dibantu petugas Dishub, mengepulkan asap knalpot yang berbaur gumpalan asap tipis di udara, menciptakan atmosfer siang yang bising dan menghangat.


Pekerjaan belum usai. Saya melaju cepat ke rental komputer di Simpang Pulutan, tempat si Idun, langganan saya. Di sana, saya menyusun tiga KTP tadi, tak lupa menambahkan dua KTP cadangan untuk berjaga-jaga, lalu mencetaknya. Proses itu memakan waktu hingga menjelang azan Zuhur.


Saya pacu jalan sepeda motor saya, beberapa kali memutar tali gas sampailah di Purwajaya kembali menyerahkan lembaran printout KTP tersebut kepada Bu Dewi. Namun, kejutan belum berakhir. Dua dari tiga nama calon pengurus tersebut mendadak gugur! Setelah dicek, domisili di KTP mereka ternyata masih tercatat di kampung asal mereka di Koto Tangah Mudiak (Bukik Barisan).


Beruntung, firasat saya benar, saya ada membawa dua KTP cadangan berdomisili Sarilamak, itu menjadi penyelamat. Berkas akhirnya bisa dinyatakan lengkap.


Insya Allah, besok siang, Selasa, 21 Juli 2026, saya akan kembali melangkah ke Kantor Wali Nagari Sarilamak. Semoga SK tersebut benar-benar rampung, sehingga langkah besar berikutnya—yakni pembentukan panitia pembangunan Mushalla Al-Amin Bukik Limau—bisa segera direalisasikan. | F. Malin Parmato

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teks Cacarakan Makharijul Huruf Ustazdah Lutfie

  Download Cacarakan Makharijul Huruf RAR #cacarakan Download teks cacarakan ustadzah Lutfie

Download

  RAB Rehap Mushalla Al-Amin Bukik Limau

Ketika Waktu Tinggal Dua Hari: Kisah Lahirnya Masjid Ali bin Abi Thalib di Bukik Limau

Cerita vol 4/2026/07/24 .  "Dua hari lagi harus dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Ali bin Abi Thalib." Kalimat itu meluncur kencang dari mulut Pak Datuak Tong, menembak papan alamat menghantam fikiran setiap panitia yang hadir. Beliau menjelaskan dengan wajah serius. Proposal pembangunan masjid yang dibuat beberapa hari lalu telah disetujui Human Initiative Pusat. Pelaksanaannya dipercayakan kepada Mitra Initiative, dan dirinya ditunjuk sebagai pengawas lapangan. "Bos saya pak Sutarman baru menelpon, ia hanya memberi waktu tiga hari saja untuk memulai pembangunan. Ini sudah lewat dua hari. Pada Sabtu, 25 Juli 2026 besok, bagaimana pun caranya peletakan batu pertama harus terlaksana. Senin laporan harus sudah masuk ke pusat." Tak ada ruang untuk tawar-menawar. chek chek chek chek .. Sore itu langit Bukik Limau tidak sedang bercerita tentang hujan. Ia justru dipenuhi kepulan asap dari tungku-tungku pembakaran batu bata yang tak pernah benar-benar pad...